Ramadhan dan Idul Fitri Pertama di Osaka, Jepang

Alhamdulillah, Ramadhan tahun ini Komunitas Muslim Osaka University yang di Kampus Toyonaka bisa menikmati buka puasa bersama di mushola kita sendiri. Ya, setelah mungkin sekitar 8-9 tahun kawan-kawan berjuang untuk mendapatkan tempat sholat, akhirnya kita mendapatkan juga di kampus kita tercinta. Patut disyukuri karena tidak banyak kampus di Jepang yang ada mushola nya. Jadi, tiap hari dari senin sampai jumat kita ada acara buka puasa bersama dan yang menyediakan makanan buka bersama lain-lain, kadang kawan dari Indonesia, Mesir, India, Bangladesh, dsb. Sehingga benar terasa suasana buka puasa dan Ramadhan nya di negeri minoritas muslim. Ini juga sebagai tempat kita bersilaturahim dengan teman-teman muslim dari negara lain dan juga kadang kita mengundang teman non-muslim untuk merasakan suasana buka puasa kita di Osaka University. Mereka (orang non-muslim) mengatakan ini luar biasa, kalian bisa membuat acara seperti ini.

Kemudian kita juga ada acara pengajian Muslim Osaka (MO) tiap weekend nya, mungkin hari sabtu nya saja atau minggu nya saja. Jadi bisa dikatakan libur buka puasa dalam satu minggu hanya 1 hari saja alias buka puasa bersama dengan keluarga kecil di rumah kalau yang sudah punya keluarga, kalau yang belum sambil buka sambil berdoa. hehe… Pengajian MO juga ada tazkiroh nya, jadi bisa menjadi sarana kita untuk meningkatkan keimaman dan ketakwaan kepada Allah Swt. Dan tentunya silaturahim dengan kawan-kawan Indonesia di Osaka.

Setelah 29 hari melaksanakan Ibadah Puasa Ramadhan, kita dipertemukan dengan Idul Fitri dan bertepatan dengan hari jumat sehingga bisa libur kuliah lumayan lama, jumat-sabtu-ahad. Sebuah kesempatan yang langka bisa merasakan Idul FItri di Osaka, Jepang. Kita di Indonesia Idul Fitri adalah salah satu hari dengan perayaan yang sangat ramai, namun di Jepang tidak, Islam masih minortas di sini. Jadi tidak ada suasana ramai, banyak orang kumpul, dan semacamnya. Namun rasa ukhuwah Islamiyah diantara semua komunitas benar-benar terasa, karena kita bisa sholat Ied bersama, kemudian bersalam-salaman, dan akhirnya gathering alias ngobrol bareng bersama rekan-rekan muslim dari berbagai negara. Terima kasih ya Allah atas kesempatan ini. 🙂

Photo by me: suasana aula sebelum sholat Ied. 

Advertisements

Bagaimana Rasanya Lebaran di Negeri Orang?

Photocredit by me

  1. Gemana rasanya lebaran di negeri orang? Dan itu lebaran dimana?

Ya, diawal baiknya saya ceritakan pengalaman saya lebaran di dua negara yang berbeda; pertama, lebaran Idul Fitri 2016 di Kuala Lumpur (KL), Malaysia bersama istri dan anak. Dan yang kedua, lebaran Idul Adha tahun 2016 juga di Osaka, Jepang. Yang paling terasa yakni rasa kangen dengan keluarga (bapak-ibu), keluarga besar, teman, dan tetangga yang ada di Indonesia. Kemudian yang kedua adalah rasa “pengin” makan masakan lebaran semisal opor ayam, rendang, semur, kue lebaran yang tidak ada seperti di Indonesia. Dan yang terakhir, mungkin sepi ya, tidak ramai seperti di Indonesia.

  1. Kegiatan apa saja yang dilakukan disana?

Hmm, ketika dulu di KL, kegiatannya selain sholat Ied bersama di Masjid, kami silaturahim ke rumah-rumah tetangga dan teman. Dan dihari berikutnya mendatangi rumah-rumah dosen yang melakukan open house. Di Malaysia, open house sudah menjadi kebiasaan bagi orang yang punya posisi penting di institusi untuk mengundang masyarakat umum atau rekan kerja/sekolah saat lebaran. Menariknya, ketika kami mengunjungi rumah tetangga/teman, umumnya si tuan rumah memberikan angpao kepada anak-anak yang datang bersama orang tua mereka (gambar koleksi angpao anak saya).

Kemudian kalau di Osaka, kami sholat Ied di ruang serba guna dekat Masjid, lalu kumpul bersama dengan semua muslim dari berbagai negara untuk saling memberikan selamat, dan buat komunitas muslim Indonesia, kami ada gathering sendiri sesama warga Indonesia di salah satu rumah teman, ngobrol bersama dan juga makan bareng dengan berbagai macam menu khas Indonesia.

  1. Bagaimana perbedaannya dengan lebaran di Indonesia?

Perbedaaan yang pasti adalah tidak seramai Indonesia, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, jelas karena muslim di Malaysia tidak menjadi komunitas yang dominan (hanya 60%). Di Malaysia alhamdulillah libur pada saat lebaran. Selain itu, hal yang berkaitan dengan lebaran seperti ketupat, mudik, libur panjang tidak bisa kami temukan ketika lebaran di negara orang. Di Malaysia ada lemang (semacam ketupat kalau di Indonesia), lalu mudik, tidak begitu ramai kalau di Malaysia, mungkin karena penduduknya tidak sebanyak kita dan fasilitas jalan tol yang sudah sangat baik. Nah kalau untuk libur panjang mungkin tidak lama kalau di Malaysia, hanya beberapa hari saja, jadi tempat liburan untuk keluarga juga tidak ramai sekali.

Sedangkan di Jepang yang minoritas muslim (kurang dari 2%), lebaran tidak termasuk hari libur, sehingga kita perlu minta izin dihari lebaran untuk merayakannya. Kemudian kalau hal-hal yang berkaitan dengan lebaran, semua yang disebutkan di atas bisa dikatakan tidak ada di Jepang, jadi ya seperti hari biasa. He

  1. Apakah mengalami kesulitan? Kesulitan apa?

Sejauh ini belum mengalami kesulitan yang berarti, paling hanya lokasi sholat Ied yang agak jauh, jadi perlu menggunakan motor waktu dulu di KL dan bus waktu di Osaka.

[Rangkuman wawancara dari salah satu tabloid yang ada di Indonesia. Semoga bisa menjadi tambahan cerita untuk kita semua. Terima kasih.]

Memahami Teman

This picture taken from: here

Cerita ini terjadi di lingkungan baru saya, dulu ditempat yang lama, ada teman yang kurang “sosial” dan pas kebetulan lain kepercayaan, jadi saya jarang jumpa dengan dia. Nah sekarang, alhamdulillah dipertemukan dengan situasi yang hampir sama namun dia satu kepercayaan (jadi sering jumpa di mushola/masjid). Kadang berfikir ini adalah cara Tuhan untuk mempersiapkan diri saya untuk “mungkin” besok di dunia kerja yang akan bertemu dengan tipikal orang yang seperti itu.

Jadi, sekeyakinan saya, Islam itu mengajarkan dengan sangat baik itu jiwa “sosial” – habluminannas, namun jelas dengan landasan Islam yang kuat, ad least tanpa iri, dengki, hasud, dst. Karena kalau tidak punya sifat itu, bawaannya bakal “kepo, ga suka, dsm”, yang itu jelas tidak baik untuk amal kita sebagai muslim.

Disisi yang lain, karena saat ini saya tinggal di Jepang, jiwa kepo (orang Jepang) sangat lah rendah, atau bisa dibilang tidak ada. Jadi, sangat jarang temen-teman lab saya yang bawaannya pengin tahu apa yang saya lakukan. Bukan dikatakan tidak peduli, tapi memang saking jiwa “individualism” orang Jepang, itulah yang membuat mereka akhirnya lebih baik tidak ikut campur urusan orang lain. Sehingga jiwa iri, dengki, dst (bagi orang Jepang, mungkin ya) yang diatas saya sebutkan menjadi sangat-sangat minim. Karena tidak ada perasaan seperti itu, jadi wajar kalau mereka tidak akan disibukkan dengan hal-hal orang lain yang berakibat “kepo”, bahkan dosa “kepo” itu sendiri.

Menambahkan sedikit, “kepo” kita yang tinggi akhirnya membuat kita jadi ingin tahu apa yang orang lain lakukan, kalau baik itu tidak masalah, nah kalau tidak baik itu yang bakal jadi masalah. Sedangkan dalam Islam baik dan buruk kejadian dengan saudara kita itu bernilai pahala. Cuma karena kurang sedikit saja bekal Islam dalam hal takdir baik dan buruk orang lain, sehingga kalo orang lain dapat takdir baik kita merasa iri, dan kalau orang lain mendapat takdir buruk kita merasa senang. Naudzubillah.

Jadi kesimpulannya adalah bagaimana kita terus membekali diri untuk meningkatkan keilmuwan Islam kita sehingga faham akan makna takdir baik dan buruk, meskipun kita “kepo” terhadap orang lain (tapi kalau bisa si tidak perlu lah). Namun kalau belum cukup ilmu, coba sedikit bersikap seperti orang Jepang yang anti-kepo, tidak begitu memperdulikan urusan orang lain.

Sekian dan terima kasih. Ada baiknya dari Allah dan kurang dari diri saya sendiri, semoga bisa menjadi refleksi untuk diri ini yang lemah.

Tennis in Malaysia, what in Japan?

Mungkin sekedar bercanda saja dengan istri, saya bilang: “di Malaysia, kakak punya hobi baru yaitu Tennis, karena ada kawan yang ajari kakak main Tennis, dan dia Malaysian (Orang Malaysia asli). Lalu, di Jepang? Kakak punya kawan Japanese (Orang Jepang asli), dan dia ajari kakak main cycling (road bike), dan akhirnya kakak punya hobi baru di negara yang baru kakak datangi ini, yakni cycling”. Lucu sebenarnya kalau kita hanya memandang tentang hobi baru di tempat baru. Tapi dibalik itu, ada sesuatu yang menarik.

Kedekatan kita dengan orang asli (orang tempatan) adalah sangat-sangat membahagiakan bagi kita yang bisa mendapatkan itu. Tapi sebagian orang mereka merasa kesulitan untuk medapatkan kedekatan dengan orang tempatan. Jelas, kita harus memposisikan diri sebaik mungkin untuk bisa menjadi “best friend of him/her”. Untuk bisa memposisikan dan menjadikan diri kita best friend pun susah-susah gampang. Perlu sedikit lobi, sedikit ikuti kebiasaan mereka, sedikit cari tahu tentang kesukaan mereka, dll. Dan ilmu ini jelas tidak didapatkan di bangku sekolah. Kalaupun ada, tidak ada dalam silabus. Kita butuh kemampuan softskill yang itu bisa kita dapatkan dari luar sekolah, semisal organisasi, komunitas, klub hobi, dll. Jadi jangan paksakan dunia kita (waktu kecil) hanya di sekolah dan (waktu besar) hanya di kantor.

Sekarang bicara tentang cycling, cycling di Jepang sangat direkomendasikan, jelas, karena jalan di sini bagus-bagus dan memiliki SIM kendaraan bermotor (mobil) sedikit rumit. Kemudian orang sini juga sudah sangat biasa mengendarai sepeda dari satu tempat ke tempat lain. Jadi jangan heran kalau setiap rumah pasti (hampir 100%) ada sepeda di parkiran mereka. Kemudian tentang road bike, adalah salah satu jenis sepeda yang biasa digunakan untuk jarak jauh, sangat ringan, dan sangat nyaman untuk dibawa ke tempat yang cukup jauh. Dilain sisi, otot kaki yang digunakan untuk mengayuh road bike adalah otot kaki yang paling besar (butuh sitasi), jadi memang butuh banyak kalori untuk olahraga ini, dengan catatan jarak yang jauh, kalau jarak 3 kilo tidaklah begitu banyak kalori yang dikeluarkan.

Kemudian, dari website Polygon, ini adalah keuntungan dari bersepeda:
1. Menurunkan risiko terkena penyakit jantung karena bersepeda dapat memperlancar sirkulasi darah ke seluruh tubuh.
2. Menjaga berat badan.
3. Menjaga tingkat kolesterol dalam darah.
4. Menghindari dan mengatur tekanan darah yang tinggi.
5. Mencegah keropos tulang.
6. Meningkatkan kebugaran dan tenaga.
7. Membantu menghindari stres.
8. Meredakan tekanan atau otot-otot yang tegang.
9. Membantu kualitas tidur.
10. Membantu meningkatkan kepercayaan diri dan sikap optimis.
11. Merupakan salah satu kesempatan untuk mempererat hubungan sosialisasi, baik dengan keluarga maupun dengan kerabat.

Terima kasih. Salam dari Osaka, Jepang. 🙂

 

Taken by: Sugi san

Diskusi PCIM Jepang: Kedudukan Agama dan Sains dalam Islam

Istilah ilmu berasal dari bahasa Arab (‘alima-ya ‘lamu- ‘ilman): dia telah tahu-dia tahu-pengetahuan.
Sains (science), bahasa latin scio (saya tahu/ I know), scientia (pengetahuan/knowledge) atau scire (mengetahui/to know): pengetahuan atau mengetahui.
Jadi pada dasarnya secara bahasa ‘sains’ merupakan padanan kata terhadap ‘ilm/’ulum.

Sesuatu disebut pengetahuan jika ia diyakini benar, keyakinan tersebut harus dibuktikan dengan penalaran (logis) atau memiliki alas am (justifikasi) yang dapat membuktikan.
Sehingga tidak setiap keyakinan itu pengetahuan, keyakinan dapat saja keliru, jika tidak dapat dibuktikan dengan penalaran yang sesuai (logis).

Karena arus Barat yang begitu mendominasi hari ini, dimana sains bisa dianggap sebagai satu-satunya ilmu yang paling absah dan ilmiah, sehingga menepikan derajat keilmuan lain seperti ilmu agama dan filsafat.

Faktanya juga hari ini lebih banyak orang lebih mengutamakan pendidikan sains dari pada ilmu agama itu sendiri. Dominasi sains (menutur Barat) sadar atau tidak sadar sudah hadir dalam masyarakat kita.

Dalam pandangan Islam, ilmu (sains) bukan seperti masyarakat Barat, namun ia mencakup seluruh pengetahuan yang berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Continue reading “Diskusi PCIM Jepang: Kedudukan Agama dan Sains dalam Islam”