Manfaat Lari/Jogging: “Ibu dari Olahraga”

Merujuk kembali bagaimana Jogging bermanfaat buat kita:
https://manfaat.co.id/20-manfaat-jogging-bagi-kesehatan-fisik-dan-mental

Jogging bisa disebut aktivitas lari kecil yang umumnya memiliki tujuan untuk menjaga kesehatan kita. Banyak orang yang mengistilahkan jogging sama dengan lari santai. Namun jogging berbeda dengan aktivitas lari. Dr. George Sheehan yang merupakan pakar di bidang jogging mendefinisikan jogging adalah aktivitas berlari dengan kecepatan di bawah 6 mil/jam atau sekitar 9,7 km/jam. Di luar kecepatan itu bisa disebut lari.

Kini jogging sudah seperti menjadi kebutuhan primer bagi manusia. Berbagai manfaat bisa di dapatkan ketika melakukan aktivitas ini, salah satunya adalah:
(1) Untuk Kesehatan Jantung 
Dari hasil studi menemukan bahwa jika kita berlari setidaknya 16 km dalam seminggu akan mengurangi resiko gangguan tekanan darah. Selain itu akan membuat kolesterol tidak terendap terlalu lama dalam pembuluh darah. Hal tersebut baik untuk menjaga kebugaran jantung.

Taken from: here

Advertisements

Aksi Bela Palestine @Osaka, Japan 17/12/17

From Yasir (Osaka, Japan) 

Cerita bermula dengan ajakan kawan di grup yang agak sedikit kecewa karena banyak diantara kita yang tidak merespon. Bukan kenapa, jelas karena saya disibukkan dengan aktivitas lab dari pagi sampai malam dari senin sampai jumat dan kadang sabtu. Namun ketika mendekati hari H pelaksanaan aksi, dapat kabar kalau acara aksi di Osaka dilaksanakan hari Ahad. Alhamdulilllah, insha Allah hadir.

Aksi ini bukan aksi pada umumnya, jelas karena pernyataan Trump: mau memindah Kedutaan Besarnya dari Tel Aviv ke Jerusalem. Dan banyak aksi-aksi lain di seluruh penjuru dunia. Padahal dunia sudah tahu bahwa Jerusalem adalah kota tua yang masih dalam status quo PBB. Dan kita tahu juga bahwa Yahudi Israel menduduki tanah Palestine dan mengakui bahwa itu adalah tanah mereka sampai membuat negara sendiri, negara Israel. Panjang sejarahnya, dan PBB sudah berbuat namun tidak ada perubahan ke arah yang lebih baik bagi Palestine. Negara Palestine tahun demi tahun berkurang dan negara Israel tahun demi tahun bertambah. Aneh bukan?

Kalau hanya bicara soal Islam mungkin tidak cukup, tapi juga bicara tentang kemanusiaan, bagaimana terisolasi-nya Palestine dari dunia luar. Luar biasa sekali perjuangan mereka, Allah telah memberikan cobaan kepada mereka melampaui dari apa yang kita bayangkan. Tanpa pekerjaan tatap, jelas tanpa pendapatan tetap; tanpa internet untuk akses kabar dari luar; tanpa listrik yang lama, terutama pada musim dingin; tanpa air bersih; tanpa makanan yang cukup, makan apa adanya; tanpa medis yang canggih; dan yang jelas dengan tembok tinggi yang memisahkan 2 negara itu. Apa ada negara selain 2 negara itu yang punya tembok setinggi dan setebal mereka?

Teruslah kita sadar dan update tentang saudara kita di Palestine, mungkin ini tanda akhir zaman yang Allah siapkan untuk generasi kita. Siapa tahu kita adalah mujahid yang siap membantu perjuangan Islam pada masa ini.
Terakhir, alhamdulillah bisa bersilaturahim dalam aksi itu dengan teman-teman dari Kanazawa. Banyak cerita dan salah satunya cerita tentang PCIM Jepang (Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah).

Terima kasih.

Pengajian Muslim Osaka (MO), Nov 2017: Cerita Pak Asep Bayu UPI

Photo was taken by @MO, Japan

Ceritanya mungkin tidak sengaja untuk menghadiri pengajian ini dan mendapat ilmu yang tidak saya sangka sebelumnya buat saya secara pribadi. Karena hari sebelumnya dan hari itu ambil Pemanas Minyak untuk persiapan kedatangan Keluarga di Jepang. Saya mulai dari sosok Pak Asep mungkin, adalah sosok kedua setelah Pak Usep (Ishaq), alumni CASIS UTM yang cukup mengenal sejarah sains Islam pada masa lampau. Bukan kenapa? Karena beliau adalah orang Teknik Kimia yang saya sedikit tahu bagaimana aktifitas beliau yang banyak di laboratorium, menulis hasil penelitian, dll; dan yang juga sama pernah merasakan kehidupan perkuliahan pascasarjana di Jepang.

Beliau bisa dikatakan banyak tahu tentang sejarah Islam, khususnya bidang Sains. Mungkin beliau sempat meluangkan waktu untuk belajar tentang itu. Karena memang jarang yang tahu bahwa Sains hari ini sejujurnya adalah dari Islam (sebelumnya lagi dari Yunani), dan Barat mengambilnya dengan tidak mengakui bahwa Islam-lah nenek moyang mereka dalam Sains.
Cerita ini mungkin sudah lama saya dapat ketika dulu di Malaysia, belajar tentang Islamisasi Sains dengan teman-teman CASIS. Jadi memang itulah fakta yang ditutupi oleh Barat untuk me-liberal-kan apa pun, membuat Tuhan itu tidak ada, dan meng-agung-kan Logika Otak daripada Wahyu Tuhan. Sehingga terjadilah apa yang sekarang dalam ilmu Kimia dan semacamnya. Kita sekarang sedang berkiblat dengan Barat yang mana nilai Agama itu jauh dari ilmu Kimia itu sendiri atau ilmu-ilmu apapun yang hari ini ini kita pelajari di bangku kuliah.

Semoga, apa yang beliau lakukan bermanfaat untuk kita semua, untuk membuka pintu jendela khasanah Islam pada masa lampau lebih dan lebih. Kita hari ini sudah sangat sangat terlupakan dengan dunia Islam kita pada masa lalu, semangat belajar mereka, semangat ibadah mereka, dan semangat penelitian mereka untuk memanfaatkan dunia ini untuk memahami kalimat Allah.
Kita sebagai muslim kalau bisa memahami dan mengkaji juga agar kita bisa mengambil manfaat dari apa yang telah mereka pelajari. Karena harus kita akui, Barat hari ini adalah Barat yang tidak percaya Tuhan dalam setiap lembar buku Kimia, Fisika, dst. Sedang kita, muslim, adalah ilmuwan yang percaya akan Tuhan ada disetiap titik kalimat dalam buku-buku pelajaran kita meski buku itu dari Barat (Bahasa Inggris).

Terima kasih. | Osaka, Japan

Back to Japan in 2017: A new journey in Pursuing Dr. (Eng.)

Photo by me

2015 ke Yamaguchi, Fukuoka, Japan buat Conference sekitar 5 hari. 2016 ke Osaka University buat Special Research Program sekitar 3 bulan. 2017 ke Kansai dan mulai Doctor (Engineering) di Osaka University. Tidak disangka sebenarnya, tapi ini takdir dari Tuhan yang Maha Esa. Alhamdulillah.

Mulai dari email sensei yang mana saya disuruh pilih tanggal berapa mau berangkat ke Jepang. So, saya langsung pilihkan yang agak deket dengan Oktober, karena intake di Jepang adalah April dan Oktober, saya pilih 28 September. Dan awal September sudah prepare Visa, waktu itu Hari Raya Idul Adha, mulai lah proses Visa di Kedutaan Jepang, Jakarta, Thamrin. Alhamdulillah lancar karena ada MEXT Scholar nya.

Kemudian bersyukur di akhir-akhir waktu sebelum berangkat Jepang bisa silaturahim ke tempat saudara di Banjarnegara, Semarang, Jogja, dan Magelang. Momen yang memang kita sempatkan, karena memang jarang buat kami bersilaturahim dikarenakan tinggal di KL, Malaysia dari 2015. Kalaupun jumpa dengan saudara ketika hari raya pastinya obrolannya terbatas karena ada banyak saudara yang sama-sama merayakan.

Ketika beberapa hari mau berangkat, dimudahkan, alhamdulillah, badan masih sehat meski tenaga di forsir untuk keliling keluarga. Terkadang kenangan itu terasa sekali ketika bisa bercengkrama dengan keluarga. Jujur sedih sebenarnya, belum bisa memberikan banyak khusunya uang (materi) kepada mereka. Cuma tidak tahu ini benar atau salah, “dengan keluarga (terutama keluarga inti), kalau belum bisa kita memberi uang, berilah adab yang baik dengan mereka”. Mungkin ini dahulu yang bisa kami berikan kepada mereka, berusaha memberikan adab sebaik mungkin dengan mereka, jangan sampai mereka tersinggung, marah, dsb. Bisa membuat mereka tersenyum adalah kebahagiaan hati yang tidak bisa diuangkan.

Bicara berangkat Jepang, bicara silaturahim, bicara jumpa keluarga semua. Saya harus bicara minta maaf kepada keluarga karena belum bisa maksimal bermafaat buat mereka, berdoa suatu saat nanti, namun tetap terus berusaha maksimal menunjukkan adab yang baik. Semoga berkenan.

Farewell Malaka (Mas Fit): 403 Brotherhood

Photo by: Mas Fitrian 

Kekeluargaan diantara penghuni 403 Wangsa Maju. Buat saya, adalah momen terakhir sebelum berangkat Jepang dan sambal kumpul-kumpul dengan mereka yang masih ada di Malaysia, karena sebagian dari kita sudah balik Indonesa.

Persaudaraan, yang di grup WA kita dinamai “Brotherhood”, mungkin itu dalam Bahasa Inggris nya. Flashback, cerita awal dulu pertama kali tinggal di Kuala Lumpur, Malaysia ya memang di apartement ini. Di Wangsa Maju, Wilayah Persekutuan, Kuala Lumpur. Kita biasa berangkat bareng dan pulang bareng menggunakan LRT ke kampus, jalan bareng buat sholat di Surau (Mushola), dst jadi wajar kalau banyak interaksi diantara kita, banyak cerita pengalaman, dan bercanda ini itu. Sehingga itu yang membuat kita semakin dekat satu sama lain.

Selain itu adalah adanya diskusi riset. Diskusi yang cukup berbeda (untuk diri saya) dengan para senior di Wangsa Maju ini, karena kebanyakan senior menekuni bidang Teknik Mesin, sedang saya Teknik Kimia. Namun, fundamental dari riset itu bisa saling melengkapi buat saya. Faktor ini juga yang semakin membuat kita intent berinteraksi, yang lebih tahu memberi tahu kepada yang belum tahu. Jadi senior memang (buat saya) perlu untuk bertukar pikiran dan berbagi pengalaman riset meski tidak sebidang, apalagi kalau sebidang (sebaiknya wajib).

Dan mungkin (terfikirkan secara pribadi) kedepannya bisa kita gunakan untuk kolaborasi kerja. Iya, dirasa sangat penting untuk kita para peneliti kalau hanya mengandalkan diri kita, padahal kita bisa lebih maksimal lagi kalau bisa berkolaborasi dengan orang lain. Maka itu, terus jaga brotherhood kita ini, terus berkolaborasi, dan terus berkontribus.