Boss-ku Berbeda dengan Apa yang Saya-Mau-

This picture is originally taken from here 

Kembali melanjutkan apa yang dulu kita diskusikan. Detik ini memang rasanya sudah akhir dan ingin juga segera berakhir kemudian melanjutkan hal lain yang memang itu adalah passion kita, belum ditambah dengan tugas kita misal sebagai kepala keluarga, atau sendiri yang sedang membuat dot-dot-kehidupan seperti Steve Jobs bilang. Tapi satu hal yang mungkin akan menjadi kenangan tersendiri pada diri tentang memilikinya boss yang berbeda dengan idealisme kita. Jujur ingin melawan, namun apalah daya, hati ini dan badan ini masih memiliki daya untuk lebih mementingkan adab daripada ego.

Satu hal yang ada dalam diri ini adalah sosok pengalah dan mengikuti apa yang boss bilang. Entah apa yang ada dalam hati ini, hingga akhirnya bisa menikmati pengalahan ini karena memang tidak ingin hanya mementingkan diri pribadi, ingin memberikan kesan baik kepada atasan agar bisa terus bekerja dengan baik dan bahkan kalau bisa setelah keluar dari jeratan ini. Tapi sisi positif yang bisa saya dapatkan adalah saya menjadi tahu tentang sosok ini, tahu kelemahan dia, dan yang pasti saya tidak ingin seperti dia kelak ketika saya menjadi boss. Ilmu mengalah mungkin susah untuk sebagian orang, tapi buat saya itu mudah. Berharap besok dan pada seterusnya bisa digunakan dan dibagikan kepada orang lain agak kita (orang bawah) sepatutnya punya jiwa ‘mengalah’, karena kita tidak tahu apakah kita akan langsung ke atas atau mulai dulu dari bawah.

Then, pasca selesai ini, cobalah kita untuk meloncat sejauh yang kita mampu, dapatkan passion kita untuk bisa kembali kedalam hal yang memang kita ingini (idealisme). Atau mungkin hanya sekedar cara kerja yang banyak kekurangan dari boss kita yang dulu. Karena jiwa ini jelas butuh kenyamanan hidup, kebaikan lingkungan, dan teman yang sepemikiran. Maka dari itu, segera lepaskan itu semua dan carilah kondisi yang seperti itu. Yakin bahwa ada orang yang telah mendapatkan idealisme itu dan ikuti mereka, belajar dari mereka untuk menjadi sosok yang baik, yang bisa membuat diri kita itu bangga dalam hal apa yang kita lakukan pada waktunya kelak (saya belum merasakan dan berharap bisa).

All is well!

Detik Akhir Pelajaran “Master” alias S2

The picture is copied from this web

Berat sebenarnya kalau di suruh bicara tentang Study Master (S2), terutama menjelang akhir-akhir perjalanan ini. Terutama pada titik setelah viva/ujian. Pasca viva, kita tahu seperti apa karya ilmiah kita dihadapan orang yang ahli dalam bidan yang sedang kita pelajari saat ini. Mereka jelas akan menanyakan dengan sangat detail apa yang menjadi persoalan dan solusi yang kita berikan. Maka itu, lama tak menulis dan lama juga ber-kontemplasi tentang hal ini. Yang pada intinya ada dua hal yang ingin saya share di sini.

Pertama tentang rise tapa yang sedang kita kerjakan saat study ini, sehingga kita harus tahu tentang permasalahan yang ada dan apa yang dibutuhkan, apa yang bisa kita tawarkan. Namun pada satu sisi, belajar pada level Master apalagi di Malaysia, tantangan tambahannya adalah publikasi ilmiah, ada sebagain orang sini yang mengutamakan publikasi tanpa berfikir seberapa signifikan hasil riset itu, dan ada juga yang sangat getol untuk memikirkan hal itu. Kembali pada permasalahan utama, yakni tentang riset kita dan publikasi ilmiah hanyalah tambahan sahaja.

Banyak diantara kita yang tidak bisa mendapatkan apa yang menjadi permasalahan utama dari riset kita, sehingga hanya sekedar jalan sahaja dan ketika penguji Master menanyakan tentang background riset kita, kita tidak bisa maksimal menjelaskan dengan baik. Maka itu membaca masalah adalah hal dasar dalam melakukan riset, so, mungkin saran sebaiknya banyak duduk lama dan baca tentang riset-riset orang sebelum kita yang mungkin sahaja sudah diselesaikan oleh orang lain atau malah hal itu bukan lah permasalahan yang urgent bagi riset dalam bidang kita.

Poin kedua adalah tahu tentang gap riset yang ada saat ini, sehingga selanjutkan kita bisa memberikan authentic akan riset kita, bukan pengulangan, dan bukan sampah. Dan untuk hal ini  pun sama, perlu banyak membaca dan menganalisa tentang perbedaan antara riset yang sudah-sudah dengan riset yang akan kita lakukan.

Pada intinya memang sebuah kesunyian diri untuk membaca adalah pondasi awal dalam melakukan riset dan kelak ketika ujian Master kita bisa merasakan puasnya riset yang kita lakukan karena memang berkualitas. Namun kesunyian itu perlu dibarengi dengan kesabaran yang cukup lama, bisa jadi 1 semester alias 6 bulan untuk bisa mendapatkan apa yang menjadi modal dasar dalam riset Master kita.

Good luck and all the best!

Why I should graduate soon?

Why I should graduate soon?

photo-26-01-2017-12-46-12-pm

Photo by Me

I think many foreigner students are doing their Undergraduate, Master and PhD not in their countries.  Here, I am student in Malaysia (Universiti Teknologi Malaysia) and I am from Indonesia. I am being a student for 2 years exactly because I start from March 2015, now February 2017. In my opinion, I should graduate soon because of my previous experience in Undergraduate and scholarship as well as my family.

Firstly, I have not really good experience in my Undergraduate due to some problems and also environment. I was member for many organizations and make me confident to speak, to discuss and to make decision for myself. However, when the graduation time was near in the future, I was not so confidence and made me to think more what should I do after this. Finally, I can finish my study during six years. Some people think this in abnormal, so, I would promise to myself that I will study back on my chemistry, it is mean I should continue my study (Master) and I do not repeat this particular part of my long study.

Secondly, I came here under scholarship to study my Master, and I bring my family (my wife and my daughter) as well. I just get 2 years scholarship and it cannot be more than it. Therefore, I should study hard and finish this as soon as possible. I try to arrange my time in study as well as my time for my family. On the first and second semester I used to go back lately because so many laboratory activities that I should do on that time. Furthermore, on the weekend, I have to give my time for my family due to long time on my laboratory during weekdays.

In conclusion, I just want to say that why I should graduate soon because of my experience and my scholarship as well as my family. This is one of my story during my Master study. In addition, I think my knowledge during my study is not good enough therefore I should keep on the desk to read, to understand, and to do for my environment better.

Thank you.

[This is just a training for independent task on writing section in TOEFL iBT and I take from my story]

Share ilmu dari Singapore, Prof Ying (IBN)

Selamat sore dari Kuala Lumpur, Malaysia. Bulan kemarin, tepatnya Dec 2016, UTM KL kedatangan tamu terkenal dari Singapore (Prof. Ying) yang saat ini bekerja di IBN, SG. Mungkin ini sedikit cerita dari apa yang saya dapat kemarin dan semoga bermanfaat (akan di share juga di twitter via @miftahfarieds).

img_0083Picture by staff UTM

Berikut ceritanya:

  1. Alhamdulillah, berkesempatan berjumpa dan bertanya dengan salah satu orang terbaik dalam bidang Nanomaterial #ProfYing_IBN-SG di UTM KL, MY
  2. Bulan kemarin datang k kampus kita (UTM) dan berbagi tentang riset yang sedang dia kerjakan, berapa banyak peneliti, bagaimana publish yang tidak sekedar publish, dll #ProfYing_IBN-SG 
  3. Dalam institute beliau di Singapore (SG), hanya sekitar 170an orang yang bekerja baik sebagai peneliti maupun sebagai pembantu peneliti #ProfYing_IBN-SG 
  4. Dengan berbagai pendekatan yang intinya nanomaterial, beliau menggabungkan antara kimia, biologi, dan fisika bahkan management untuk kemaslahan orang banyak #ProfYing_IBN-SG 
  5. Biologi adalah pendekatan yang banyak dia sampaikan karena sangat penting bagi nanomaterial untuk bisa masuk ke area tubuh manusia #ProfYing_IBN-SG 
  6. Alat pendeteksi dengue (kedapannya zika) adalah salah satunya, biologi dalam menentukan kadar darah untuk selanjutnya bisa dikatakan sakit atau tidak #ProfYing_IBN-SG 
  7. Dan juga penggunaan tikus putih untuk penelitian juga salah satu yang dia gunakan dalam testing awal terkait alat nanomaterial yang dia buat #ProfYing_IBN-SG 
  8. Kenapa biologi? Karena kedepannya akan banyak aplikasi untuk bidang ini, semisal anti kanker, anti tumor, dll yang banyak pasien saat ini #ProfYing_IBN-SG 
  9. Kemudian, kolaborasi dengan industri adalah sangat penting karena mereka yang akan membantu dalam biaya riset kita #ProfYing_IBN-SG 
  10. Perlu sebuah iktikad dalam riset untuk tidak hanya sekedar riset, tapi bisa berkontribusi untuk orang lain, salah satunya dalam dunia kesehatan #ProfYing_IBN-SG 
  11. Nah industri juga akan tertarik jika kita bisa mengkomersilkan hasil penemuan kita dengan mereka, mereka untung dan ilmu kita bermaanfaat #ProfYing_IBN-SG 
  12. Disamping itu publikasi ilmiah pasti juga akan sejalan dengan ini, karena riset yang baik sepatutnya menghasilkan publikasi ilmiah #ProfYing_IBN-SG 
  13. Kemudian bagaimana memanagement orang banyak dalam sebuah riset institute dan tetap menjaga kualitasnya #ProfYing_IBN-SG 
  14. Lebih kearah passion, kalau kita gali passion mereka atau bahkan mendapatkan orang-orang yang berpassion yang sama #ProfYing_IBN-SG 
  15. Riset akan lebih cepat berjalan, sesuai dengan ekspektasi dan tentunya mereka juga enjoy dengan riset mereka #ProfYing_IBN-SG 
  16. Sekilas mungkin itu yang bisa saya ambil dari kuliah beliau di UTM kemarin, semoga bisa kita ambil manfaatnya #ProfYing_IBN-SG and thanks

“Orang Indonesia Friendly?”, Kata Kawan Jepang

Seorang kawan Jepang tanya, yang intinya kenapa sering dia temui orang yang dari tropical country mereka orangnya “friendly”. Tidak seperti orang-orang di Negara dia, mungkin itu yang bisa saya tarik dari statement dia. Dia bilang demikian kepada saya. Dan langsung saja saya jawab dengan sangat confidence berdasarkan pengamatan pribadi. Saya menjawab begini, kami (tropical country) people biasa pulang kerja/kuliah awal, sekitar pukul 5 sore waktu setempat, sehingga kita punya banyak waktu dengan keluarga, suami-istri, anak. Kadang kalau belum berkeluarga kita gunakan waktu pasca office hour dengan teman kita, ngobrol, dan lain semacamnya. Sedangkan apa yang terjadi di Negara kamu lain. Kamu banyak yang masih stay di office/kampus sampai larut malam. Sehingga interaksi antar satu orang dengan yang lain kurang, maka itu nilai friendly kita (tropical country) lebih di banding dengan orang Jepang.

img_4200Picture by Sugi-san

Yah, secuil perdiskusian kita dahulu, tropical county itu semacam Indonesia dan Malaysia. Jangan terlalu berfikir dalam, ini hanya pendapat subjektif, kurang ilmiah dan perlu penilitian lanjut untuk diambil kesimpulan bahkan untuk di publish dalam jurnal.

Kemudian kawan ini pun menambahkan bahwa beberapa big companies di Jepang sudah menggalakkan jam pulang awal tidak sampai larut malam, mungkin sekitar pukul 5 sore sudah pulang kantor. Namun di kampus kami (Osaka University) masih belum bisa.

Kenapa saya langsung jawab dari sisi jam kerja di kantor?

Bagi saya yang orang baru jelas ada shock culture tersendiri ketika awal stay di Jepang, banyak orang Jepang yang kerja larut malam. Aneh bagi saya, tapi itu hal yang lumrah bagi orang-orang Jepang. Mereka yang sudah sangat passion dalam kerja/belajar mereka, atau hanya karena lingkungan sekitar office/kampus yang biasa pulang larut malam, sampai pukul 10-11-bahkan 12 malam.

Diwaktu yang lain, saya tanya ke kawan Jepang yang lain, kenapa kalian (orang Jepang) banyak yang pulang lambat? Dia jawab, kami orang Jepang prefers stay di office/kampus daripada di rumah. Prefer stay di kampus daripada di rumah. Yah, jelas ada alasan lain pastinya, saya pun tak tahu pasti. Pastinya mereka punya alasan lebih daripada saya yang hanya orang baru dan tahu cara kerja mereka seperti itu. Perlu penjajakan lebih lama untuk mengambil kesimpulan ini. Atau banyak orang bilang kalau Jepang adalah orang yang sangat taat waktu dan kerja keras sampai-sampai mereka mau stay hingga larut malam di office.

Pada cerita yang lain, pasal friendly nya orang tropical country pendapat saya sangat subjektif, banyak juga kami di Indonesia dan Malaysia yang ga friendly (unfriendly). Jadi ini ada faktor keturunan, lingkungan dan organisasi. Saya kira mungkin karena faktor lingkungan dan organisasi yang membuat kawan Jepang ini bilang saya “friendly”. Hehe