“Colloquium” Pertama

Tantanan itu hadir hampir satu tahun belajar di Osaka Dai. Iya, colloquium (Collo) atau progress report di depan para sensei besar. Collo itu adalah hal yang biasa di jurusan saya (Chemical Engineering, Fac. Engineering Science), baik untuk anak Master tahun pertama, tahun kedua, apalagi untuk Doctor student. Sebuah kegiatan yang menantang bagi mereka yang menyukai dunia riset, sehingga feedback dari sensei atau teman akan sangat bermanfaat buat riset kita.

Untuk anak M1 di sini, mereka hanya dibuatkan Collo dengan format presentasi 3 paper yang terkait dengan riset mereka, mereka akan ditanya tentang paper itu dan mungkin sedikit tentang apa yang sudah/akan dilakukan selama M1. Lalu untuk M2, sudah mulai forum bebas, dimana pertanyaan akan sangat variatif, terserah sensei, namun sensei yang menguji hanya 1 atau 2 sensei saja dan tempatnya biasanya diruang kerja sensei.

Lah, untuk Doctor sudah mulai terbuka di depan umum, seperti Conference, di depan banyak sensei dan di ruang kelas. Sehingga tekanan untuk relax, santai sangat kecil sekali. Kalau kita tidak bisa menjawab pertanyaan sensei bisa jadi kita akan dianggap student Doctor main-main yang ditanya tentang riset kita sendiri tidak bisa. Padahal jelas riset kita adalah pekerjaan kita yang seharusnya kita sendiri yang paling faham dibanding sensei pembimbing kita sekalipun. Jadi aneh memang kalau tidak bisa menjawab, meski itu pertanyaan dasar yang sangat mudah sepatutnya.

Nah, Collo Doctor ini akan ada tiap tahun dari D1, D2, dan D3, namun tekanan akan sangat berbeda, seperti saya yang D1 tidak begitu tertekan, namun yang sudah D2 dan D3, jelas kalau belum ada publikasi akan sedikit tertekan. Ya hanya tekanan dari sensei pribadi saja sebenarnya (umumnya), karena bagi sensei presentasi itu sama untuk semua students, cuma pencapaian yang berbeda, dan yang paling mudah melihat pencapaian mereka ya dari publikasi nya. Ada berapa banyak publikasinya?

Lalu, dari Collo pertama kemarin, jadi semakin faham kekurangan riset saya. Pandangan sensei terhadap riset kita agak mereka fahami dan mereka akan memberikan pertanyaan dan masukan yang membangun untuk riset saya kedepannya. Kadang memang terlihat menakutkan itu “Collo”, tapi sebenarnya banyak sisi positif dari kegiatan ini. Dan beruntungnya, di jurusan saya ini sudah rutin, banyak jurusan lain yang belum punya sistem seperti ini. Terima kasih Kisoko.

Advertisements

Kedatangan Tamu dari Indonesia

Jelas sesuatu yang menyenangkan ketika kita didatangi tamu yang memang kita harapkan untuk datang. Cuma tamu ini agak sedikit berbeda, mereka dari salah satu institusi pendidikan di Indonesia yang pada awalnya sudah saya tawarkan untuk membangun jaringan/kolaborasi dengan Osaka Daigaku, Jepang. Bukan apa-apa, namun bagi saya pribadi, ketika kita punya posisi yang cukup baik (dalam artian di luar negeri/diaspora, namun bukan itu sepertinya, lebih tepatnya mahasiswa di luar negeri) bisa membantu untuk membangunkan jaringan dengan Indonesia.

Inilah yang saya maksud dengan kontribusi (saat ini), saya ingin sedikit membantu Indonesia, siapa tahu kedepannya ada MoU dengan Osaka Dai dan bisa menjadi jembatan untuk membangun, memperbaiki, dan menjadikan Indonesia lebih baik lagi.

Sebenarnya aneh, mahasiswa bantu membuatkan MoU. Tapi, hal ini sudah saya lakukan untuk kali kedua saya. Kali pertama saya ketika dulu di UTM Malaysia dengan salah satu kampus di Sumatera. Alhamdulillah semua lancar. Inilah yang bisa saya lakukan sekarang dan yang mungkin dengan posisi saya seperti ini. Menjadi pelajar di luar negeri tidak melulu dengan belajar, namun saya mau dengan yang lain, membantu membuat MoU dengan salah satu kampus di Indonesia, membangun jaringan, kolaborasi, dsb.

Cerita awalnya, mereka datang adalah hanya sebuah tawaran dari saya dan sayapun dapat dari sensei (beruntung sensei saya salah satu staff di International Officer), jadi punya andil untuk membuat MoU. Lalu saya tawarkan ke beberapa kampus dengan kenalan yang saya tahu di Indonesia, ada satu kampus yang tertarik, dan pas kebetulan ada rombongan kampus yang mau Conference di Jepang sekalian silaturahim di Osaka Dai. Itu kali pertama saya jumpa dengan mereka dan “kebiasaan” saya, berusaha untuk menjamu mereka sebaik yang bisa saya lakukan. Dan ternyata, bisa menemani mereka dari siang sampai malam, sampai lupa kalau JR terakhir ke bandara sudah tidak terkejar.

Jadi pada intinya, tamu yang datang untuk silaturahim, untuk kebaikan orang banyak, dan semacamnya; bisa menjadi jembatan kita untuk memberi makna tambahan kepada orang lain. Terima kasih bapak-bapak yang kemarin telah berkunjung. 🙂

Ramadhan dan Idul Fitri Pertama di Osaka, Jepang

Alhamdulillah, Ramadhan tahun ini Komunitas Muslim Osaka University yang di Kampus Toyonaka bisa menikmati buka puasa bersama di mushola kita sendiri. Ya, setelah mungkin sekitar 8-9 tahun kawan-kawan berjuang untuk mendapatkan tempat sholat, akhirnya kita mendapatkan juga di kampus kita tercinta. Patut disyukuri karena tidak banyak kampus di Jepang yang ada mushola nya. Jadi, tiap hari dari senin sampai jumat kita ada acara buka puasa bersama dan yang menyediakan makanan buka bersama lain-lain, kadang kawan dari Indonesia, Mesir, India, Bangladesh, dsb. Sehingga benar terasa suasana buka puasa dan Ramadhan nya di negeri minoritas muslim. Ini juga sebagai tempat kita bersilaturahim dengan teman-teman muslim dari negara lain dan juga kadang kita mengundang teman non-muslim untuk merasakan suasana buka puasa kita di Osaka University. Mereka (orang non-muslim) mengatakan ini luar biasa, kalian bisa membuat acara seperti ini.

Kemudian kita juga ada acara pengajian Muslim Osaka (MO) tiap weekend nya, mungkin hari sabtu nya saja atau minggu nya saja. Jadi bisa dikatakan libur buka puasa dalam satu minggu hanya 1 hari saja alias buka puasa bersama dengan keluarga kecil di rumah kalau yang sudah punya keluarga, kalau yang belum sambil buka sambil berdoa. hehe… Pengajian MO juga ada tazkiroh nya, jadi bisa menjadi sarana kita untuk meningkatkan keimaman dan ketakwaan kepada Allah Swt. Dan tentunya silaturahim dengan kawan-kawan Indonesia di Osaka.

Setelah 29 hari melaksanakan Ibadah Puasa Ramadhan, kita dipertemukan dengan Idul Fitri dan bertepatan dengan hari jumat sehingga bisa libur kuliah lumayan lama, jumat-sabtu-ahad. Sebuah kesempatan yang langka bisa merasakan Idul FItri di Osaka, Jepang. Kita di Indonesia Idul Fitri adalah salah satu hari dengan perayaan yang sangat ramai, namun di Jepang tidak, Islam masih minortas di sini. Jadi tidak ada suasana ramai, banyak orang kumpul, dan semacamnya. Namun rasa ukhuwah Islamiyah diantara semua komunitas benar-benar terasa, karena kita bisa sholat Ied bersama, kemudian bersalam-salaman, dan akhirnya gathering alias ngobrol bareng bersama rekan-rekan muslim dari berbagai negara. Terima kasih ya Allah atas kesempatan ini. 🙂

Photo by me: suasana aula sebelum sholat Ied. 

Bagaimana Rasanya Lebaran di Negeri Orang?

Photocredit by me

  1. Gemana rasanya lebaran di negeri orang? Dan itu lebaran dimana?

Ya, diawal baiknya saya ceritakan pengalaman saya lebaran di dua negara yang berbeda; pertama, lebaran Idul Fitri 2016 di Kuala Lumpur (KL), Malaysia bersama istri dan anak. Dan yang kedua, lebaran Idul Adha tahun 2016 juga di Osaka, Jepang. Yang paling terasa yakni rasa kangen dengan keluarga (bapak-ibu), keluarga besar, teman, dan tetangga yang ada di Indonesia. Kemudian yang kedua adalah rasa “pengin” makan masakan lebaran semisal opor ayam, rendang, semur, kue lebaran yang tidak ada seperti di Indonesia. Dan yang terakhir, mungkin sepi ya, tidak ramai seperti di Indonesia.

  1. Kegiatan apa saja yang dilakukan disana?

Hmm, ketika dulu di KL, kegiatannya selain sholat Ied bersama di Masjid, kami silaturahim ke rumah-rumah tetangga dan teman. Dan dihari berikutnya mendatangi rumah-rumah dosen yang melakukan open house. Di Malaysia, open house sudah menjadi kebiasaan bagi orang yang punya posisi penting di institusi untuk mengundang masyarakat umum atau rekan kerja/sekolah saat lebaran. Menariknya, ketika kami mengunjungi rumah tetangga/teman, umumnya si tuan rumah memberikan angpao kepada anak-anak yang datang bersama orang tua mereka (gambar koleksi angpao anak saya).

Kemudian kalau di Osaka, kami sholat Ied di ruang serba guna dekat Masjid, lalu kumpul bersama dengan semua muslim dari berbagai negara untuk saling memberikan selamat, dan buat komunitas muslim Indonesia, kami ada gathering sendiri sesama warga Indonesia di salah satu rumah teman, ngobrol bersama dan juga makan bareng dengan berbagai macam menu khas Indonesia.

  1. Bagaimana perbedaannya dengan lebaran di Indonesia?

Perbedaaan yang pasti adalah tidak seramai Indonesia, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, jelas karena muslim di Malaysia tidak menjadi komunitas yang dominan (hanya 60%). Di Malaysia alhamdulillah libur pada saat lebaran. Selain itu, hal yang berkaitan dengan lebaran seperti ketupat, mudik, libur panjang tidak bisa kami temukan ketika lebaran di negara orang. Di Malaysia ada lemang (semacam ketupat kalau di Indonesia), lalu mudik, tidak begitu ramai kalau di Malaysia, mungkin karena penduduknya tidak sebanyak kita dan fasilitas jalan tol yang sudah sangat baik. Nah kalau untuk libur panjang mungkin tidak lama kalau di Malaysia, hanya beberapa hari saja, jadi tempat liburan untuk keluarga juga tidak ramai sekali.

Sedangkan di Jepang yang minoritas muslim (kurang dari 2%), lebaran tidak termasuk hari libur, sehingga kita perlu minta izin dihari lebaran untuk merayakannya. Kemudian kalau hal-hal yang berkaitan dengan lebaran, semua yang disebutkan di atas bisa dikatakan tidak ada di Jepang, jadi ya seperti hari biasa. He

  1. Apakah mengalami kesulitan? Kesulitan apa?

Sejauh ini belum mengalami kesulitan yang berarti, paling hanya lokasi sholat Ied yang agak jauh, jadi perlu menggunakan motor waktu dulu di KL dan bus waktu di Osaka.

[Rangkuman wawancara dari salah satu tabloid yang ada di Indonesia. Semoga bisa menjadi tambahan cerita untuk kita semua. Terima kasih.]

Memahami Teman

This picture taken from: here

Cerita ini terjadi di lingkungan baru saya, dulu ditempat yang lama, ada teman yang kurang “sosial” dan pas kebetulan lain kepercayaan, jadi saya jarang jumpa dengan dia. Nah sekarang, alhamdulillah dipertemukan dengan situasi yang hampir sama namun dia satu kepercayaan (jadi sering jumpa di mushola/masjid). Kadang berfikir ini adalah cara Tuhan untuk mempersiapkan diri saya untuk “mungkin” besok di dunia kerja yang akan bertemu dengan tipikal orang yang seperti itu.

Jadi, sekeyakinan saya, Islam itu mengajarkan dengan sangat baik itu jiwa “sosial” – habluminannas, namun jelas dengan landasan Islam yang kuat, ad least tanpa iri, dengki, hasud, dst. Karena kalau tidak punya sifat itu, bawaannya bakal “kepo, ga suka, dsm”, yang itu jelas tidak baik untuk amal kita sebagai muslim.

Disisi yang lain, karena saat ini saya tinggal di Jepang, jiwa kepo (orang Jepang) sangat lah rendah, atau bisa dibilang tidak ada. Jadi, sangat jarang temen-teman lab saya yang bawaannya pengin tahu apa yang saya lakukan. Bukan dikatakan tidak peduli, tapi memang saking jiwa “individualism” orang Jepang, itulah yang membuat mereka akhirnya lebih baik tidak ikut campur urusan orang lain. Sehingga jiwa iri, dengki, dst (bagi orang Jepang, mungkin ya) yang diatas saya sebutkan menjadi sangat-sangat minim. Karena tidak ada perasaan seperti itu, jadi wajar kalau mereka tidak akan disibukkan dengan hal-hal orang lain yang berakibat “kepo”, bahkan dosa “kepo” itu sendiri.

Menambahkan sedikit, “kepo” kita yang tinggi akhirnya membuat kita jadi ingin tahu apa yang orang lain lakukan, kalau baik itu tidak masalah, nah kalau tidak baik itu yang bakal jadi masalah. Sedangkan dalam Islam baik dan buruk kejadian dengan saudara kita itu bernilai pahala. Cuma karena kurang sedikit saja bekal Islam dalam hal takdir baik dan buruk orang lain, sehingga kalo orang lain dapat takdir baik kita merasa iri, dan kalau orang lain mendapat takdir buruk kita merasa senang. Naudzubillah.

Jadi kesimpulannya adalah bagaimana kita terus membekali diri untuk meningkatkan keilmuwan Islam kita sehingga faham akan makna takdir baik dan buruk, meskipun kita “kepo” terhadap orang lain (tapi kalau bisa si tidak perlu lah). Namun kalau belum cukup ilmu, coba sedikit bersikap seperti orang Jepang yang anti-kepo, tidak begitu memperdulikan urusan orang lain.

Sekian dan terima kasih. Ada baiknya dari Allah dan kurang dari diri saya sendiri, semoga bisa menjadi refleksi untuk diri ini yang lemah.